“SUSTAINABLE COMPACT CITY”

on Jumat, 08 Mei 2009



1. Kota dan Konsumsi Energi

Paling tidak separuh populasi penduduk dunia kini diperkirakan telah tinggal di kota. Di tahun 1995 saja, telah 45% dari penduduk dunia tinggal di area urban, dan sekitar 1 milyar dari 2.6 milyar penduduk dunia telah tinggal di kota-kota besar (Jenck, 1996). Di masa depan, kecenderungan banyaknya populasi penduduk dunia yang tinggal di area urban ini diprediksi akan makin meningkat. Jumlah penduduk kota di negara berkembang pada tahun 2000 adalah sekitar 2 milyar orang dengan proporsi terhadap jumlah seluruh penduduk sebesar 40%. Statistik UNDP menunjukan bahwa jumlah tersebut akan meningkat 50% pada tahun 2025 dan 60% pada tahun 2050 atau dengan kata lain akan meningkat lebih dari dua kali yaitu dari 2 milyar ke 4,8
milyar orang.

Penduduk Kota di Negara Berkembang
Pertumbuhan kota yang nyaris tanpa batas wilayah merupakan fenomena kota-kota
besar di dunia. Munculnya kota-kota yang tersebar ke dalam wilayah pinggiran,
berakibat kepada tersebarnya dan kurang meratanya penyediaan pelayananpelayanan
dari sub-sub urban. Akibat lainnya adalah mahalnya biaya pembangunan
infrastruktur, meningkatnya kemacetan karena bertambahnya volume lalu lintas,
hilangnya banyak lahan pertanian, berkurangnya kenyamanan hidup baik di kota
maupun wilayah pinggiran, serta terancamnya kondisi stabilitas pedesaan. Pada akhirnya, konsumsi energi bagi kota dan warganya juga akan semakin besar dan tak
terelakkan. Dengan kecenderungan ini maka kota-kota akan makin dipandang
sebagai lokasi yang paling banyak mengkonsumsi energi.

Penggunaan kendaraan pribadi seakan-akan merupakan satu-satunya jawaban
kebutuhan mobilitas yang tidak dapat ditawar. Pertumbuhan jumlah kendaraan di
Indonesia (yang sekarang digolongkan menjadi negara miskin) mencapai lima juta
unit per tahun. Betapa makin beratnya beban yang ditanggung oleh kota-kota kita
setiap tahun. Pertumbuhan tersebut memiliki korelasi positif terhadap besarnya
polusi dan ini telah menempatkan Jakarta sebagai kota ketiga sedunia yang paling
terpolusi.

Dengan kepadatan populasi penduduk yang besar, maka konsentrasi persoalanpersoalan
lingkungan, konsumsi sumber-sumber alam termasuk minyak, akan
terakumulasi pada problematika kota ini. Oleh karena itu merencana dan mengelola
bentuk dan ruang kota dengan kebijakan publik yang benar akan menjadi satu faktor
kunci keberhasilan penghematan energi. Pada akhirnya, jika kebijakan dan
prakteknya dapat ditemukan dan dijalankan dengan benar, sudah dipastikan akan
mendapatkan efisiensi dan keuntungan yang besar.

2. Kota Berkelanjutan (Sustainable City)

Kota-kota adalah area penting bagi berbagai aktifitas manusia dan mereka ini adalah
konsumen terbesar dari sumber-sumber alam. Ada semacam konsensus yang
berkembang bahwa pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah
sangat esensial bagi perkembangan kota-kota di masa depan. Karena aktifitas
manusia dipercaya tidak akan dapat selamanya menggunakan dan mengambil
sumber-sumber yang ada sekarang tanpa akan membahayakan kesempatan bagi
generasi berikutnya.

Pembangunan berkelanjutan didasarkan pada 2 konsep yang saling terkait :

1. Konsep kebutuhan (the concept of needs):
Menciptakan kondisi yang menjaga terpenuhinya kebutuhan hidup yang
memadai bagi seluruh masyarakat.

2. Konsep keterbatasan (the concept of limits) :
Memperhatikan dan menjaga kapasitas lingkungan untuk memenuhi
kebutuhan saat ini dan akan datang.

Kebijakan pembanguan berkelanjutan secara langsung berintegrasi dengan
lingkungan, ekonomi, dan sosial. Diagram berikut menunjukan bagaimana integrasi
dari nilai lingkungan, nilai ekonomi dan nilai sosial menghasilkan kehidupan yang
sejahtera bagi manusia. Dalam aplikasi pembangunan berkelanjutan, 3 elemen
tersebut harus berjalan simultan. Ketimpangan pembangunan akan terjadi apabila
perkembangan aspek yang satu lebih tinggi dari yang lain. Keseimbangan ini dapat
dijadikan indikator keberlajutan (sustainability indicators) pembangunan. Prinsipprinsip
tersebut juga berlaku untuk pembentukan Sustainable City.
Dalam Sustainable city dapat dijelaskan bahwa hubungan ekonomi dengan
masyarakat tercermin dari taraf hidup, hubungan lingkungan dengan ekonomi
tercermin dari upaya konservasi, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan
tercermin dari ko-eksistensi mereka.
Wacana sustainability dalam desain kota dan arsitektur merupakan isu lama yang
sulit untuk terwujud. Hal itu disebabkan karena terlalu banyak aspek yang perlu
diperhatikan. Beberapa aspek fisik desain kota berkelanjutan adalah sebagai berikut.
Berkurangnya waktu perjalanan dan penghematan energi merupakan bagian dari
sustainability. Dalam konteks struktur kota, ada beberapa model spasial yang dapat
digunakan untuk mencapai sustainability tersebut yaitu :
- Central core city structure
- Star shape structure
- Satellite city structure
- Galaxy structure
- Linear city structure (Curitiba)
- Multi pole structure


3. Kota Kompak (Compact City)

Perhatian besar saat ini telah berfokus pada hubungan antara bentuk kota dan
keberlanjutan (sustainability). Dalam berbagai diskusi tentang pola-pola ruang dan
bentuk kota yang berkelanjutan, satu isu yang diperkenalkan oleh Dantzig & Saaty
adalah kota yang kompak (compact city). Argumen-argumen yang kuat sedang
dimunculkan bahwa kota kompak adalah bentuk kota yang dianggap paling
berkelanjutan. Inilah yang diungkapkan oleh Mike Jenks, Elizabeth Burton dan Katie
Williams (1996) dalam buku mereka berjudul Compact City: A Sustainable Urban
Form?
Ciri kota kompak menurut Dantzig & Saaty (1978) paling tidak dapat dilihat dari 3
aspek yaitu bentuk ruang, karakteristik ruang, dan fungsinya.



Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang dekat antara
bentuk kota kompak dan keberlanjutan (sustainability), diantaranya :
1. Pengurangan ketergantungan pada kendaraan bermotor
2. Penyediaan infrastruktur dan service publik yang efisien
3. Komunitas yang aktif melalui hunian berkepadatan tinggi
4. Revitalisasi pusat kota



Kota Kompak ini memang digagas tidak sekadar untuk menghemat konsumsi energi,
tetapi juga diyakini lebih menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang.
Jenks menyebutkan bahwa ada suatu hubungan yang sangat kuat antara bentuk
kota dengan pembangunan berkelanjutan, tetapi sebenarnya tidaklah sesederhana
itu atau bahkan langsung berbanding lurus. Namun demikian, dalam Kota Kompak
ini terdapat gagasan yang kuat pada perencanaan urban containment, yakni
menyediakan suatu konsentrasi dari penggunaaan campuran secara sosial
berkelanjutan (socially sustainable mixed uses), mengkonsentrasikan pembangunan
dan mereduksi kebutuhan perjalanan, hingga mereduksi emisi kendaraan. Oleh
karena itu promosi penggunaan public transport (transportasi publik masal),
kenyamanan berlalu-lintas, berjalan kaki dan bersepeda adalah sering dikutip
sebagai solusi (Elkin, et.al., 1991).


Pemilihan bentuk kota kompak memiliki dampak tertentu. Keuntungan dan kerugian
dari bentuk kota kompak tergantung dari bagaimana merealisasikannya. Beberapa
skenario kebijakan yang biasa dipakai untuk mencapai sebuah kota kompak, yaitu :
1. Meningkatkan biaya transportasi pribadi
2. Mengembangkan hunian berkepadatan tinggi dan pembauran sosial
3. Menggabungkan fungsi-fungsi komersial
4. Mengembangkan tata guna lahan campuran anatara hunian dan komersial
5. Pemisahan yang tegas antara daerah hunian dan pertanian


0 komentar:

Posting Komentar